SKRIPSI BAB I (TGT)
Jumat, 21 Juni 2013
SKRIPSI BAB I (TGT): BABIPENDAHULUANA.
SKRIPSI BAB I (TGT): BABIPENDAHULUAN<!--[if !supportLists]-->A. <!-...: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bidang paling strategis dalam mempersiapkan sumber daya manus...
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
merupakan bidang paling strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang
mampu bersaing baik ditingkat lokal, regional
maupun global. Menyadari akan hal itu, tujuan pendidikan dasar adalah
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta
keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Kemajuan
suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya
peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat
bangsa Indonesia. Untuk mencapai hal itu, pendidikan harus adaptif terhadap
perubahan zaman.
Upaya
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti, berbagai
terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu
antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga
pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar serta pengembangan paradigma
baru dengan metode pengajaran.[1]
Dalam rangka
memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka harus
berlandaskan pada kurikulum dan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan yang efektif. Untuk mewujudkan visi pendidikan
nasional tersebut diperlukan peningkatan dan penyempurnaan pendidikan nasional
yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, serta perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian.[2]
Kurikulum yang
sekarang sedang diterapkan oleh pemerintah yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan
sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum yang memberikan otonomi
luas pada setiap satuan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam rangka
mengefektifkan proses pembelajaran di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap
satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya,
sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan
serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.[3]
Salah satu mata pelajaran IPA yang merupakan mata
pelajaran yang ada di setiap jenjang pendidikan, baik dijenjang sekolah dasar,
menengah hingga perguruan tinggi. Peranan mata pelajaran IPA sangat penting
dalam menunjang pembangunan dibidang pendidikan, bagi siswa yang mampu memahami
pelajaran IPA akan menjadi sarana yang ampuh untuk mempelajari mata pelajaran
yang lain pada jenjang yang lebih tinggi, dikarenakan mata pelajaran IPA pada
sekolah dasar merupakan mata pelajaran yang sangat pokok atau dasar dari mata
pelajaran lain. Pembelajaran
IPA sebagai salah satu pelajaran eksat yang merupakan materi pembelajaran
penting terhadap penanaman konsep-konsep pengetahuan alam bagi siswa, karena
itu penggunaan metode pembelajaran merupakan cara untuk melakukan sesuatu dalam
aktivitas pembelajaran. Sebab sesuatu hal tidak mungkin tercapai tanpa ada
cara, penggunaan metode pembelajaran yang diterapkan pada siswa harus mampu
menggali seluruh potensi siswa yang akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar
siswa sehingga berguna bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.
Oleh
karena itu, pembelajaran bukan semata persoalan menceritakan, bukanlah
konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa tetapi
pembelajaran memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Namun,
pada kenyataannya guru masih kurang mengoptimalkan perhatian terhadap metode
pembelajaran, dimana dalam proses pembelajaran guru hanya menggunakan metode
ceramah. Guru menyampaikan pelajaran hanya dengan kata-kata saja tanpa
melibatkan siswa, pembelajaran juga masih kurang mengaktifkan potensi yang ada
dalam diri siswa bahkan siswa merasa bahwa belajar sains itu membosankan.
Dengan
kurangnya pemahaman guru mengenai model atau metode pembelajaran, maka akan
membuat siswa menjadi bosan dan jenuh dalam belajar sehingga banyak
materi pelajaran yang tidak bisa diserap dan dipahami oleh siswa, maka hal ini akan menimbulkan dampak negatif pada diri
siswa yang akhirnya berdampak buruk pada hasil belajar siswa, karena konsep
dasar yang bersifat teoritis yang harus dihafal dan sangat membosankan bagi
siswa, kurangnya aktivitas siswa kecuali hanya mendengarkan guru berbicara
menyampaikan materi pelajaran. Interaksi sesama siswa dalam belajar sangat
rendah, kerja sama (kooperatif) antar siswa sangat rendah. Untuk itu perlu ada model pembelajaran yang melibatkan siswa secara
langsung dalam pembelajaran, hal ini diperoleh berdasarkan hasil observasi.
Agar belajar
menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak tugas, mereka harus menggunakan
otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka
pelajari. siswa perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan dan membahasnya
dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu mengerjakannya yakni
menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya,
mencoba mempraktekkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menuntut
pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.[4]
Adapun model yang dimaksud adalah model pembelajaan kooperatif.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja
dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. Pembelajaran
kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan
melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut
diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak
yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya.[5]
Berangkat dari
permasalahan-permasalahan di atas sehingga penulis tertarik untuk mencoba
mengkaji sebuah model pembelajaran kooperatif dengan harapan dapat memecahkan
permasalahan-permasalahan di atas, salah satu dari model pembelajaran
kooperatif adalah tipe Team Game Tournament
(TGT). Karena TGT merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang
disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisifasi siswa, memfasilitasi
siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam
kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar
bersama-sama siswa yang berbeda latar belakang.
Model pembelajaran
yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6
orang siswa, sehingga siswa bekerja dalam berkelompok. Pembelajaran cooperative
learning tipe team
game tournament
dikemas dalam bentuk permainan karena bermain merupakan pemenuhan suatu
kebutuhan mendasar bagi anak-anak serta sesuatu yang sangat menarik. Aktivitas belajar dengan
permainan yang dirancang dalam pembelajaran cooperative learning tipe team game tournament memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan
tanggung jawab, kerja
sama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar.
Karakteristik pembelajaran cooperative
learning tipe team
game tournament memunculkan
adanya kelompok dan kerja sama dalam
belajar, di samping itu terdapat persaingan antar individu dalam kelompok maupun antar kelompok. Oleh sebab itu
penerapan pembelajaran kooperative learning tipe team
game tournament diharapkan mampu mengatasi
keterbatasan waktu, guru tidak lagi harus secara maraton menjelaskan materi.
Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa cukup
dengan arahan dan bimbingan guru. Pembelajaran cooperative learning dengan berbagai tipe dikembangkan berlandaskan teori belajar konstruktivisme.
Model pembelajaran cooperative learning tipe team game tournament lebih
banyak dipilih karena waktu relatif lebih singkat dan cara melakukannya relatif
lebih mudah.[6]
Dengan menyadari
gejala-gejala atau kenyataan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini
penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian terhadap hal atau masalah
yang sebenarnya terjadi di sekolah-sekolah. Dalam penelitian ini penulis
mengambil tempat di MIN Tungkob Aceh Besar dengan judul penelitian “Penerapan
Model Kooperatif Tipe Team Game Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Sumber
Daya Alam Di Kelas IV MIN Tungkob Aceh
Besar”
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
paparan latar belakang sebab akibat dan alasan maka permasalahan penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah
aktivitas siswa dengan penggunaan tipe
TGT pada materi sumber daya alam di kelas IV MIN Tungkob?
2. Apakah
model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada materi sumber daya alam di kelas IV MIN Tungkob Aceh Besar?
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan di atas, maka dalam penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui
aktivitas siswa dengan penggunaan tipe TGT pada materi sumber daya alam di
kelas IV MIN Tungkob.
2. Mengetahui
tingkat hasil belajar siswa dengan model kooperatif tipe TGT pada materi sumber
daya alam di kelas IV MIN Tungkob Aceh Besar.
D.
Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat
teoritis:
a. Memberikan
informasi tentang model pembelajaran yang sesuai dengan proses pembelajaran
sains.
b. Mengembangkan
wawasan dan pengalaman peneliti dalam peningkatan kualitas mengajar.
c. Meningkatkan
prestasi dan motivasi siswa pada pelajaran sains.
2. Manfaat
praktis:
a. Dengan
menggunakan model Team Game Tournament
(TGT) akan menjadi model alternatif bagi para guru dalam melaksanakan tugasnya
untuk menanamkan konsep wawasan nusantara.
b. Dengan
adanya model pembelajaran ini akan mempermudah guru dalam mengembangkan
kompetensi yang dimiliki siswa baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.
c. Dengan
demikian model ini juga berguna bagi pengembangan profesionalitas guru untuk
meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran.
3.
Definisi
Operasional
Untuk
menghindari timbulnya kesalahpahaman dalam memahami dan mengartikan, maka perlu
dijelaskan beberapa istilah, yaitu:
1. Penerapan
Dalam kamus
lengkap Bahasa Indonesia modern, penerapan artinya pemasangan, pengenaan atau
mempraktekkan sesuatu hal sesuai dengan aturan.[7]
Jadi, penerapan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah perihal mempraktekkan
atau menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team game tournament pada materi sumber daya alam.
2. Cooperative learning
Dalam kamus
besar bahasa Indonesia kooperatif yang mempunyai arti kerja sama, sedangkan learning yang berarti belajar. Jadi,
dapat dikatakan cooperative learning
adalah bekerja secara bersama-sama dalam artian belajar dan saling membantu
satu sama lain sebagai satu kelompok belajar.[8]
Cooperative
learning merupakan suatu model pembelajaran dimana sistem
belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 5-6 orang secara
kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.[9]
3. Team Game Tournament (TGT)
Team
Game Tournament (TGT) merupakan salah satu tipe atau
model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas siswa
sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.[10]
4. Hasil
belajar
Hasil belajar merupakan
prestasi peserta didik secara keseluruhan, yang menjadi indikator kompetensi
dasar dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.[11]
5. Sumber
daya alam
Sumber daya alam
adalah segala sesuatu yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa yang terdapat di
alam, dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan
kesejahteraan manusia. Sumber daya alam yang meliputi tumbuhan, hewan dan bahan
alam lainnya yang tak hidup. Jadi, sumber daya alam yang dimaksud di sini
adalah bahan yang berasal dari alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia.[12]
Jadi, sumber
daya alam yang dimaksud disini adalah sebagaimana yang tertera dalam Standar
Kompetensi (SK) yaitu, memahami hubungan antar sumber daya alam dengan
lingkungan teknologi dan masyarakat. Kompetensi Dasar (KD) menjelaskan hubungan
antar sumber daya alam dengan lingkungan dan materi keterkaitan antara sumber
daya alam, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
[1] Sumaji dkk, Pendidikan Sains Yang Humanistis, (Yogyakarta: kanisius, 2003), hal.
33.
[2] Masnur Muslich, KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan, (Bandung:
PT Remaja Aksara, 2007), hal. 2.
[3] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, 2008), hal. 21.
[4] Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
Sinar Baru, 2006), hal. 41.
[5] Cartono, Metode dan Pendekatan Dalam Pembelajaran Sains, (Jakarta: Universitas
Pendidikan Indonesia, 2007), hal. 215.
[6]
Cartono, Metode dan Pendekatan Dalam Pembelajaran
Sains.,,,’ hal. 41.
[7] Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia modern, (Jakarta:
Pustaka Amani, 1998), hal. 536.
[8]
Amran Y. S. Chaniago, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Bandung:
CV Pustaka Setia, 1995), hal. 300.
[9] Slavin. R.E, Cooperaive Learning, (USA: Allyn And
Bacon, 1992), hal. 154.
[10] M.Duski, Active Learning, Model-Model Pembelajaran, 2009, hal. 8.
[11] Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan Pengembangan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006), hal. 248.
[12] Maskoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1986), hal. 180.
Umadin, S. Pd. I
Langganan:
Postingan (Atom)
